Kutahu Yang Kumau Tapi Tuhan Tahu Yang Terbaik Untukku (karena Dia memang Maha Tahu)
Menatap ke depan dengan optimis, Firman kecil saat masih berseragam merah putih bercita-cita untuk masuk di salah satu SMA boarding school yang ada di Magelang The Hope City alias kota Harapan. Dia tau sekolah itu dari majalah militer yang dibawa Pakdhe-nya. Sekolah itu adalah SMA Taruna Nusantara yang beraliran semi militer. Kala itu sekolah tersebut tidak memungut sepeserpun biaya dari siswanya.”Disiplin kan hanya bisa dicapai lewat militer,” batinnya dalam hati “,kalau masuk SMA TN kan enak, udah gratis, fasilitas serba lengkap sekaligus sebagai sarana persiapan mental dan fisik sebelum masuk AAU (Akademi Angkatan Udara) Yogyakarta – kalo ketrima tentunya.”
Impian masuk SMA TN rupanya terus bergulir di otak anak tersebut ketika menginjak bangku SMP. Selain harus berhadapan Ujian Nasional, di kelas 3 ia juga harus mengikuti seleksi masuk SMA tersebut. Dengan mantapnya ia mengikuti rangkaian tes meliputi tes tahap I yaitu akademis, tes tahap II yaitu kesehatan, psikologi dan wawancara serta tes tahap III yaitu Pantukhir – Penentuan Akhir. Semua tahap tes tersebut secara garis besar mirip dengan tes seleksi masuk ABRI. Tes tahap I dilakukan sehari sedangkan tes tahap II dan III selama seminggu. Saat menjalani tes kesehatan, oleh tim seleksi, Firman kecil “diobok-obok” dari ujung kaki hingga ujung kepala (yang udah tahu pasti ketawa kalo ingat hal itu, kalo yang ga tau ga usah dibayangin deh, nanti malah mikirin yang enggak-enggak lagi). Di tes psikologi otaknya diperas mengerjakan soal tes IQ yang jumlahnya seabrek dari pagi hingga sore. Sedangkan dalam wawancara dia dijejali dengan berbagai pertanyaan yang kalo ga pintar-pintar ngejawab bisa jadi boomerang, plus pake dwi-bahasa Indonesia dan Inggris (bukan Indonesia dan Jawa lho he3).
Alhamdulilah seleksi I lolos. Tapi saat pantukhir ternyata dia gagal. Duka nestapa langsung ngontrak di hatinya. Beberapa minggu setelahnya dia masih agak @#$%^&*! . Sedih di mix sama marah jadinya berdarah-darah. Tapi mau marah sama siapa? Kecewa berat tu anak..
Sampai saatnya pendaftaran SMA reguler dibuka. Ternyata Firman remaja diterima di salah satu SMA favorit di kota The Hopeless, eh The Hope City. Dia nekat ngambil kelas bilingual alias dwibahasa alias immersi di mana satu kelasnya cuma ada 24 siswa. Selama 3 tahun ga pernah ganti kelas, ya anaknya cuma itu-itu aja. Ada untungnya sih, rasa pertemanan antara teman-teman satu kelas semakin erat.
Di akhir kelas satu SMA suatu keputusan diambilnya. Dasar bocah keras kepala, ia bertekad mau daftar ke SMA TN lagi walaupun resikonya harus ngorbanin satu tahun karena kalau jika diterima harus mengulang dari kelas satu lagi. Tapi kali ini SMA TN tersebut sudah tidak gratis lagi. Akhirnya dia ngambil jalur beasiswa di mana standar tes nya lebih tinggi lagi. Terus ikut seleksi lagi kaya yang dulu tapI ternyata ga lolos untuk yang kedua kalinya. Bayangin aja nih kalau lolos, orang tuanya harus bayar SPP bulanan 1 juta (mungkin sekarang udah jauh lebih tinggi). Berarti selama 3 tahun sekolah harus keluar 36 juta, lebih mahal daripada biaya kuliah. Jika ketrima – ekstremnya – masak keluarganya harus puasa sepanjang tahun buat nutupin biaya sekolah sementara dia belum tentu belajar serius 100%.
Pas SMA, target berikutnya yang harus dicapai olehnya adalah masuk AAU (Akademi Angkatan Udara) Yogyakarta, sebuah sekolah calon perwira AU. Setelah lulus AAU, taruna yang ingin menjadi penerbang harus masuk ke sekolah penerbang. Akhirnya dari seleksi hanya segelintir orang yang akhirnya bisa duduk di kokpit sebuah pesawat tempur. Kebetulan Indonesia baru membeli beberapa jet tempur Sukhoi Su-27/30MK “Flanker” dari Russia, “mainan baru” ni buat para pilot tempur negeri ini yang mgungkin udah bosan dengan “mainan” yang ada. Awalnya sih kalau masuk AAU minimal orang tua bisa bangga selain itu prospek karir ke depan juga sangat cerah. Dengan masuk AAU, Firman remaja berharap dia bisa jadi penerbang tempur – sebuah cita2 yang sangat diimpikannya sejak lama. Ada harapan dia bisa terbang di atas rumah orang tua terus orang tuanya bergumam, “Oh itu pasti anakku, walaupun dulu cuma bisa maen layangan dan bikin pesawat terbang dari kertas, sekarang ia malah yang milotin (istilahnya ga gue banget dah) sendiri. Bangganya punya anak seperti dia.” Lagian kalau pangkat perwira udah disandang di pundak, dengan sekali kibas (pada pangkat tersebut), pasti cewe-cewe langsung pada klepek-klepek (ga perlu dibayangin gimana). Calon mertua juga pasti mempercayakan anaknya pada pria bermasa depan cerah seperti itu. HAHAHA … (dengan suara tokoh antagonis paling jahat yang ingin menguasai dunia).
Idih, jijay, najis tralala! Stop berkhayalnya. Somse banget ni orang alias sombong sekali. Memang gitu, niat yang tidak murni pasti ga akan diridhai. Sampai sekarang pun, niat kotor tersebut ga pernah kesampaian. ha3 T_T
Oiya, sebelumnya dia harus menjalani perawatan tulang belakang di salah satu rumah sakit tulang di Solo untuk memenuhi syarat kesehatan seleksi masuk AAU. Karena menurut hasil rongten, ternyata tulang belakangnya waktu itu miring 10 derajat ke samping (skoliosis). Di rumah sakit tersebut dia menemukan banyak hikmah. Selama dua minggu, dia harus menjalani perawatan pelurusan tulang secara manual. Bayangin aja, tubuhnya dalam kondisi berbaring disambung ke suatu alat di mana beban yang diikat ke kepala 5 kg dan kaki 20 kg, 24 sehari selama 2 minggu termasuk waktu tidur (kecuali waktu makan, mandi, solat). Walaupun secara fisik sehat, hal itu bisa bikin stres, apalagi di atas tempat tidur – juga di kamar mandi – dikasih tambang yang digantung di langit-langit, seakan-akan bilang “kalo mau bunuh diri silakan”, (sebenarnya fungsinya untuk membantu pasien berdiri).
Dilihatnya pasien lain yang memang benar-benar udah “parah” sakitnya, ada yang patah tulang, ada yang tulang belikat menonjol keluar (ups!) dsb. Setelah perawatan selesai dia merasa bahwa dirinya lebih beruntung, bahkan sangat beruntung dibanding pasien-pasien tersebut atas karunia kesehatan.
Sampai akhirnya Yang Maha Mengatur Segalanya menetapkan bahwa bocah ini harus masuk salah satu Sekolah Tinggi XX dengan inisial (STXX). Di sana belum sadar juga tu anak. Dari sekitar 125.000 pendaftar se-Indonesia yang diambil hanya sekitar 3% nya. Kunci masuk ke STXX diperkirakan 99% merupakan campur tangan Yang Kuasa (orang Jawa bilang “bejo”= beruntung) tapi tetap disertai usaha dan doa. Di sekolah tersebut akhirnya dia masuk spes Penilai PBB, sebuah bidang yang tidak pernah dibayangkan akan dihadapinya saat ini. Padahal sebelumnya dia tak tahu apa itu penilai. Di masa modernisasi kantor pajak saat ini, pengurusan seluruh jenis pajak berada di bawah satu atap. Alhasil sekarang antara orang pajak murni dengan orang pajak khusus PBB adalah setara alias “seperguruan.” Gaji keduanya kurang lebih sama nantinya ketika sudah kerja.
Sekarang mulai berhitung secara self assessment ,dilihat dari sisi biaya:
Kutahu Yang Kumau:
Masuk SMA TN (36juta++), masuk AAU (saya tidak berani menyebutkan berapa, padahal gaji perwira nantinya tidaklah terlalu besar – mohon kepada pembaca yang lebih tahu ).
(tapi) Tuhan Tahu Yang Terbaik Untukku:
Akhirnya masuk ke Sekolah Tinggi Anti Nganggur (pendaftaran cuma 100ribu, ditambah uang kemahasiswaan sekitar 700an ribu), just it. Kalau udah kerja gajinya standar tapi tunjangannya itu loh yang lumayan besar. Yang pasti jauh lebih tinggi dari gaji perwira atau gaji ayahku yang “hanya” seorang PNS. Meminjam suatu istilah: orang bijak taat pajak, mertua bijak pilih anak pajak. Harapan orang tua, harapan mertua juga. he99
Puji sukur kepada-Mu ya Allah yang telah mencukupi semua kebutuhan makhluk-Mu
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? [QS Ar-Rahman: 77]
PERINGATAN PENULIS : tulisan ini bukan buat pamer atau gaya-gaya an, semoga bisa diambil pelajaran darinya. Buat adek-adek yang masih bersekolah biar bisa merencanakan “kira-kira 5-10 tahun ke depan apa ya yang harus saya capai.”