
- aainaism.com
Walau masih begajulan gini, dulu ketika masih duduk di bangku SMA saya mengikuti kegiatan rohis. Bisa dibilang saya tidak begitu concern dengan organisasi keislaman sekolah ini. Saya lebih aktif di organisasi luar sekolah bernama Karisma, Keluarga Remaja Islam Magelang. Nafasnya kurang lebih sama dengan rohis di dalam lingkungan sekolah itu sendiri kok. Di organisasi ini saya merasakan dengan apa yang namanya organizational orgasm, orgasme berorganisasi, begitu istilah yang tetiba keluar dari bio prosesor yang udah built in di kepala saya.
Masih tesimpan dalam memori, kegiatan rutin di hari jumat adalah pengajian pagi yang diadakan di aula sekolah. Pesertanya adalah siswa muslim untuk satu sekolah. Acara tersebut terkadang diisi oleh Ustad Restu yang waktu itu dikenal sebagai ustad cinta karena materi yang diberikan menu utamanya adalah hal-hal begituan.
Momen peristiwa 9/11 atas peristiwa hancurnya gedung kembar di Amerika Serikat tahun 2001 telah begitu lekat dengan satu kata. Saya tebak dalam benakmu akan menjawab: terorisme! Kalau benar berarti media telah berhasil mempengaruhi kita. Pun kalau saya salah, saya bukan keturunan Adam yang pandai menebak isi hati manusia #eaaa
Entah ada kepentingan atau tidak di balik pemberitaan media saat ini. Yang pasti hal tersebut menyudutkan kami sebagai umat Islam. Islam memang mengajarkan jihad. Jihad secara bahasa artinya sungguh-sungguh. Namun tidak ada sedikitpun Islam mengajarkan terorisme.
Bagaimana mulianya Islam, telah ada dalam diri Rasulullah sebagaimana kisah berikut yang saya ambil dari islamislogic.wordpress.com.
Di sudut pasar Madinah Al Munawarah, ada seorang Yahudi yang buta. Hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata:
“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya, maka kalian akan di pengaruhinya.”
Hampir setiap pagi, Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah katapun Rasul menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.
Rasulullah SAW melakukan hal itu hingga beliau menjelang wafat. Setelah Rasulullah wafat, tak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi dan yang menyuapi orang Yahudi yang buta itu.
Suatu hari Abu Bakar ra berkunjung ke rumah anaknya (Aisyah). Beliau bertanya kepada Aisyah: “Anakku, adakah sunnah Rasul yang belum aku kerjakan?” . Aisyah menjawab pertanyaan ayahnya: “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah saja. Hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja“, ucap Aisyah.
“Apakah itu?” Tanya Abu Bakar. “Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana“, jawab Aisyah.
Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, tiba-tiba pengemis itu marah sambil berteriak: “Siapa kamu…!!!” Abu Bakar menjawab: “Aku orang yang biasa“. “Bukan…!!! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” sahut pengemis buta itu.
Lalu pengemis itu melanjutkan bicaranya: “Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu, baru setelah itu ia berikan makanan itu kepadaku.”
Abu Bakar yang mendengar jawaban orang buta itu kemudian menangis sambil berkata: “Aku memang bukan yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah SAW.”
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar, pengemis itu pun menangis dan kemudian berkata “Benarkah demikian?”, tanya pengemis, kepalanya tertunduk dan air matanya mulai menetes.
“Selama ini aku selalu menghinanya dan memfitnahnya”, lanjutnya. Tetapi ia tidak pernah marah kepadaku, sedikitpun!”, ucap sang pengemis Yahudi sambil menangis terisak.
“Ia selalu mendatangiku, sambil menyuapiku dengan cara yang sangat lemah lembut…” sambil menahan kesedihan… namun akhirnya dia pun menangis.
Lalu ditengah tangisannya, sang pengemis Yahudi itupun berteriak, “Ia begitu mulia… Ia begitu mulia…!!!” sambil mendongakkan kepalanya kearah langit biru. Kedua tangannya dibuka lebar seperti berdoa, dan kemudian kembali duduk simpuh.
Spontan, mereka berpelukan. Mereka berdua larut dalam tangisan. Tangisan kehilangan seseorang yang paling mulia sepanjang masa. Lalu sesaat mereka terdiam, kemudian pengemis Yahudi buta itu meminta kepada Abu Bakar untuk menuntunnya bersyahadat.
Pengemis itupun bersyahadat… bersyahadat dihadapan Abu Bakar. Jadilah pengemis itu seorang muslim yang berserah diri kepada Allah SWT. Subhanallah…
Saya pernah lewat di depan kedubes Amerika. Tak terbersit sedikit pun memakai rompi berisi C4 dan membuat pertunjukan api di tempat tersebut. Saya tegaskan lagi. My name is Firman and i’m not a terrorist!